STRUCTURED LITERATURE REVIEW (SLR): PENGARUH FLY ASH DAN BOTTOM ASH TERHADAP KINERJA MEKANIS DAN DURABILITAS BETON
DOI:
https://doi.org/10.24036/0tdv4f88Keywords:
Fly Ash (FA), Bottom Ash (BA); Kinerja Mekanis; Penetrasi Klorida (RCPT); Durabilitas Beton; Pembangunan BerkelanjutanAbstract
Pemanfaatan produk sampingan industri seperti abu terbang (fly ash) dan abu dasar (bottom ash) yang secara bersama disebut FABA dalam bidang konstruksi merupakan salah satu cara untuk mengurangi dampak lingkungan dari proses pembuatan semen konvensional. Semen konvensional dibuat melalui proses pembakaran yang menghasilkan banyak gas karbon dioksida, sehingga penggunaan bahan pengganti seperti FABA dapat membantu menekan emisi tersebut. Kajian pustaka ini bertujuan untuk menilai temuan dari 20 artikel jurnal tentang pengaruh FABA terhadap kekuatan beton (kuat tekan, kuat lentur, kuat tarik belah, modulus elastisitas) dan ketahanannya, terutama dalam hal menahan masuknya klorida serta mencegah karat pada tulangan, yang dilihat dari laju penetrasi ion klorida, sorptivitas, daya serap air, serta resistivitas listrik. Hasil rangkuman dari berbagai penelitian menunjukkan bahwa fly ash dalam jumlah besar (High Volume Fly Ash) dapat memadatkan struktur beton melalui pembentukan gel kalsium silikat hidrat (C-S-H) tambahan pada umur beton yang lebih tua, yaitu 28 sampai 90 hari, meskipun hal ini juga membuat proses pengerasan pada umur muda, yaitu 3 sampai 14 hari, menjadi lebih lambat. Penambahan bahan halus seperti abu silika atau metakaolin, maupun penggunaan bakteri tertentu, dilaporkan dapat mengurangi kelemahan kekuatan pada umur muda tersebut karena bahan-bahan ini membantu mempercepat pengisian pori pada tahap awal perawatan. Di sisi lain, bentuk fisik bottom ash yang bersudut dan berpori berpeluang dimanfaatkan sebagai pengganti sebagian pasir pada beton bermutu normal hingga tinggi. Secara umum, kajian ini menunjukkan bahwa proporsi campuran FABA yang tepat dapat meningkatkan kekuatan beton sekaligus menurunkan laju masuknya klorida, sehingga beton menjadi lebih tahan terhadap karat tulangan bila digunakan di lingkungan yang keras, seperti kawasan pesisir. Hasil kajian menunjukkan bahwa fly ash lebih dominan berperan sebagai material pozolanik yang memperbaiki mikrostruktur pada umur lanjut, sedangkan bottom ash lebih sesuai digunakan sebagai substitusi agregat halus pada kadar yang terbatas karena sifatnya yang berpori dan menyerap air. Namun, efektivitas kombinasi FABA masih dipengaruhi oleh sumber abu, kehalusan, rasio air-binder, metode curing, serta kondisi lingkungan paparan.
Downloads
Published
Issue
Section
License
Copyright (c) 2026 Novendra Gilang Ramadhan, Nevy Sandra

This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.
Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 that allows others to share the work with an acknowledgement of the work's authorship and initial publication in JASCE.
The author holds the copyright of the submitted and published articles, with the understanding that articles are disseminated under the Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0.
The editor team is entitled to do the editing in accordance with the guidelines writing or template in the JASCE.







